A Hello from the Philippines has Ended in the MoU

It was like love at first sight how we met and got acquainted. The story began from the Virtual International Winter Course last March 2021. It was a short course delivering and promoting the local genius of the Banyumas culture to the international students. Don’t blame us for bringing such a class and theme while we are the inhabitants of the supreme programme: English literature!

The most apparent reason we believed and kept was the format and the participants of the class. It was an international forum for international audiences. For such a forum, pizza, KFC, or pastry were not a good idea to be on the presentation since we were not the producers of the foods. Otherwise, it would disgrace us for being incapable of performing it. Absolutely, in the marketing theory, we should perceive our potential buyers well. Thus, we can serve them with the most different products that others do not own.

Here, we knew well what we would sell and who our buyers were. For them (the foreign learners), nothing will be more memorable than knowing and learning about what we commonly eat, wear, see, or do as our traditions. Did they know the history of batik arts? Why do we have to wear batik? Or did they understand what wayang is? Is it similar to the common puppeteering arts? These questions are samples for boosting our creativity. That we are Indonesian people with rich cultures is the selling point for foreigners.

Done! We came to a decision. Three packets of courses we would offer the students that were, once again, based on our pride as the parts of Banyumas culture and people (most of us were not initially born in this town, though, have been growing up here and living its native traditions). Those three were Banyumas batik arts, wayang arts, and traditional dance arts. Don’t ask how we prepare for the courses. The most important thing was it would be un tour de culture pour le monde (a tour of culture for the world). Let the world look at us, know us, understand us, be impressed with us, and visit us!

Yes, we did it! We have done it! Fakultas Sastra has monumentally bridged its academicians and Banyumas to the world. The International course has enlightened the overseas students with new insight into Indonesian culture, especially Banyumas culture. Learning how to dance lengger virtually has given them a particular experience. Knowing how to mbatik was artistic, and seeing how the dhalang (the puppeteer) played the puppets online was memorable, too. Could we say that the tour was expensive with knowledge and experiences? Absolutely!

Don’t forget that we also cheered the students up with folksongs (Cublak-cublak Suweng, Gundul-gundul Pacul, and Suwe ora Jamu), and awarded the best attendee. The last went to Karla Auria Galeon from Mariana Marcos State University. She was very charming and responsive to the course. No wonder that she thanked us for the appreciation, and we were happy to do it.

What exactly impressed us about Karla was her creative idea to invite us for having a virtual roundtable. Yup! It was a web roundtable where we could discuss things mutually, sincerely, and friendly. We did not need to provide the room, but they did. Then, there we were, at 9 am (Jakarta time), 15 April 2021, in the google meeting room. They cheerfully said hello to us and delightedly presented about future collaborations. The International Affairs Bureau was also with us in the meeting.

The “hello” from them was warm and challenging for future networking. As the faculty that develops the global vision and mission, Fakultas Sastra always stays in front to welcome any mutual partnerships, including Mariana Marcos State University, the Philippines, where Karla works. The points of cooperation are sit-in programme, guest lectures, and joint researches. Hence, we hope for a long-lasting and fruitful partnership. Thank you, Karla, for your beautiful smile and nice words. A hello from the Philippines has ended in the MoU now. (nhy)

Yuk Semangat menulis di jurnal bereputasi

Ruang meeting Fakultas Sastra pagi 7 April 2021 itu sudah hiruk pikuk. Ada kamera besar di meja rapat. Layar LED 45 Inc terpampang di tengah ruang pertemuan. Mas Fardian, Teknisi IT andalan, pun sudah stand by memonitor layar laptop. Berfokus pada platform webinar yang paling populer di negeri ini, memastikan acara berjalan dengan lancar.

Tepat jam 8 Dekan Fakultas Sastra, Pak Ambar Pujiyatno, membuka acara Workshop Penulisan Artikel Ilmiah untuk Jurnal Internasional. Setelah berterima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam acara, Pak Ambar memberikan satu amanah bahwa, “Menulis artikel itu tidak mudah, tapi juga bukan pekerjaan yang sulit-sulit amat.” Dia pun menyitir cerita seorang pekerja bangungan yang sedang aras-arasan untuk lunga ngode. Tapi dalam situasi yang demikian, si pekerja itu tetap berangkat juga. Alasannya karena bagaimana pun ia adalah tukang batu, ya harus melakukan pekerjaan itu. “Dosen adalah seorang penulis, maka apa pun keadaannya kita semua tetap harus menulis,” demikian ia menutup sambutannya.

Sekitar 41 peserta sudah hadir, siap mengikuti acara pelatihan yang terbuk untuk umum secara gratis. Mereka hadir dari berbagai wilaya di nusantara: Palembang, Bangka Belitung, Medan, bahkan Kupang, yang baru saja terkena musibah banjir bandang. Mereka terdiri dari para dosen dan mahasiswa dari berbagai latar belakangan disiplin ilmu. Alhamdulillah, meskipun acara workshop berulang kali mengalami penundaan ternyata tidak berpengaruh terhadap semangat mereka.

Selanjutnya Brevidia, mahasiswa semester 4, mempersilahkan Bu Widya untuk memimpin jalannya workshop. Bu Wid kemudian memperkenalkan mentor pelatihan dari Politeknik Negeri Malang (Polinema), Pak Ardian, yang bergelar Education Doctor (Ed.D) dari kampus di Australia. Artinya Pak Ardian bukan hanya riset untuk gelar S3-nya itu, tapi harus mengikuti serangkaian perkuliahan selama sekian semester, sebelum melakukan penelitian doktoral. Singkatnya, Si Bapak ini sangat mumpuni di bidang ilmu pendidikan, khususnya English for Specific Purposes, yang merupakan bidang kajian disertasi doktoralnya.

Nyatanya memang benar. Pelatihan tersebut sangat komprehensif dari teknik menulis, sumber-sumber teknologi dalam penulisan, hingga academic writing yang sangat penting dalam menentukan kelayakan sebuah artikel untuk diterima di jurnal-jurnal internasional bereputasi. Pengalaman panjang di bidang editing artikel ilmiah membuat diskusi dengan Pak Ardian sangat kaya dan tidak pernah kering. Selalu memberikan jawaban dan solusi yang doable. Tidak lupa ia pun membagi perangkat mudah untuk menguji kelayakan artikel, sehingga peserta dapat menilai dan mengevaluasi artikel, baik milik sendiri atau pun kolega mereka. Pak Ardian membagi dua kunci penting agar artikel kita berterima bagi editor jurnal, “Engaged dan Delivery”, nyambung dengan kajian yang sudah ada, dan disampaikan dengan bahasa yang lazim dalam penulisan ilmiah. Kunci terakhir untuk sampai pada dua kriteria tersebut, tidak lain adalah “Reading.” Seorang penulis yang baik pasti dia adalah “a good reader,” tutup Pak Ardian menutup jawaban bagi pertanyaan terakhir dari Ibu Dona dari Medan.

Rasanya waktu 5 jam berjalan begitu singkat, dan masih terasa kurang bagi semua peserta. Beberapa peserta dari luar pulau, termasuk Pak Soni dari Unisri Palembang, menyampaikan rencananya mengundang Pak Ardian untuk mengisi acara pelatihan di kampus beliau. Obrolan terus berjalan, bahkan setelah MC menutup acara, menandakan bahwa kesan positif mendalam membekas di hati para peserta. Tinggal menunggu karya-karya mereka terpampang di jurnal-jurnal Q1, Q2 atau pun Q3. InsyaAllah.

Mahasiswa Fakultas Sastra Menjadi Juara Nasional pada Kejuaraan Tapak Suci Antar Perguruan Tinggi Piala Menopora RI II di UMJ

Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Sastra UMP dinobatkan sebagai Juara III Tanding Putri Kelas B pada Kejuaraan Nasional Tapak Suci Antar Perguruan Tinggi Piala Menpora RI II yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Dalam mempersiapkan perlombaan ini, Kurnia Nanda Nirmala menjelaskan bahwa dirinya harus berlatih satu hari maximal 3 kali selama 1-2 bulan penuh sebelum pertandingan diadakan.

“Yang harus saya persiapkan yaitu latihan teknik, kecepatan, kekuatan, dan kelincahan. Satu hari maximal tiga kali latihan pada pagi, siang atau sore, dan malam hari. Latihannya sendiri biasanya antara 1-2 bulan sebelum pertandingan.”, jelasnya. Nirmala yang telah mewakili Fakultas Sastra sekaligus mewakili UMP dalam kejuaraan ini mengaku bahwa saat acara lomba sedang berlangsung ia merasa ada rasa gerogi dan panik, namun rasa itu hilang ketika sudah digelanggang. Hal inilah yang menjadikan ia berhasil menempati juara III dalam Kejuaraan Tapak Suci antar perguruan tinggi ini.

Ia menambahkan bahwa, kesan yang ia rasakan dengan mengikuti dan menjuarai lomba tersebut sangat menyenangkan. Karena perlombaan ini merupakan pertandingan kedua baginya dan untuk pertama kalinya ia mendapatkan juara.

“Rasanya luar biasa seang dan bangga atas pencapaian yang saya raih. Selain itu juga bisa membuat orangtua saya bangga walaupun belum bisa meraih juara satu tapi setidaknya bisa membayar rasa lelah saya dalam berlatih.”, kata Nirmala saat diwawancarai. (zaza)

Fakultas Sastra Kembali Mengadakan Event Internasional bagi Mahasiswa Asing

Fakultas Sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menggelar acara Internasional yang berkolaborasi bersama dengan Fakultas Pertanian dan Perikanan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Kantor Urusan Internasional Universitas Muhammadiyah Purwokerto (KUI UMP).

Upaya ini dilaksanakan dengan menggelar Virtual International Winter Course 2021 yang diadakan pada tanggal 22 – 27 Maret 2021 secara luring di Gedung AR Fachrudin lt 8 dan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dengan tema “Exploring Banyumas Heritage and Culture”.

Acoustic Performance dari Mahasiswa Fakultas Sastra

Acara yang mengupas nilai-nilai Lengger, Batik, dan Wayang ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta internasional dari 10 negara yang berbeda yaitu Filipina, India, Bulgaria, Korea, Malaysia, Bangladesh, Kyrgyzstan, Pakistan serta Indonesia. Dekan dari 3 Fakultas tersebut dan Kepala Kantor KUI serta Rektor UMP pun ikut hadir dalam memeriahkan acara ini.

Tim Winter Course 2021 Fakultas Sastra

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dr. Jebul Suroso, S.Kp, Ns, M.Kep., selaku Rektor UMP. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat bagus bagi mahasiswa untuk belajar dan mendapatkan wawasan baru dari para pembicara ahli.

Dekan Fakultas Sastra, Ambar Pujiyatno,S.S, M.Hum., juga menyampaikan maksud dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk mengenalkan budaya yang ada di Banyumas kepada para mahasiswa asinh agar lebih mengenal budaya Indonesia secara luas.

“Sebenarnya (acara) ini untuk mengenalkan kebudayaan kita yang penuh akan local wisdom kepada dunia. Disamping itu kita juga ingin memperluas hubungan dengan institusi partisipan sehingga di masa depan dapat memungkinkan bagi kita untuk bertukar kebudayaan walaupun berbeda negara”, kata Ambar. (zaza)

Lengger Lanang: Dari Banyumas Menuju Dunia

Fakultas Sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengadakan International Virtual Winter Course pada tanggal 22 Maret – 27 Maret 2021. Acara ini berlangsung secara virtual dengan melibatkan lebih dari 200 peserta dari 10 negara. Acara ini membawa materi tentang Budaya Banyumasan seperti Lengger, Batik Banyumas, dan Wayang.

Di hari pertama, tari Lengger lanang menjadi bahan pokok pembahasan. Lenger Lanang lahir, dan tumbuh di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia yang merupakan daerah agraris dengan warganya yang sebagian besar bermata pencaharian bertani dan berkebun.

Untuk menjadi seorang panjang-panjang, seorang Lengger harus melalui beberapa proses spiritual, seperti mediasi untuk mendapatkan indang (roh) agar merasuki tubuh. Mereka juga harus mandi di mata air keramat di tengah malam.

Pada sesi ini, penampilan lengger terbagi menjadi empat tahap. Tahap pertama adalah gamyongan yang kemudian disusul dengan lenggeran, bodhoran, dan baladewaan.

Penari Lengger yang bernama Sigit Kurniawan melakukan tarian Lengger untuk pembukaan acara. Tidak hanya menari, Sigit dan kakaknya, Didit Suryanto, melakukan talk show yang dipandu langsung oleh dosen Fakultas Sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Widya Nirmalawati, S.S., M.A.

Tak hanya itu, para peserta diajarkan untuk menari tarian lengger oleh Sigit, sang penari Lengger. Meskipun dilakukan secara online, namun para peserta yang berasal dari luar negri sangat antusias untuk mengikuti instruksi dari sang penari. (chav/zaza)

MAHASISWA FAKULTAS SASTRA IKUTI SELEKSI BEASISWA INDONESIAN INTERNATIONAL STUDENT MOBILITY AWARDS


Mahasiswa Fakultas Sastra serius mengikuti tes Toefl Preparation untuk seleksi penerimaan Beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards.

Purwokerto. Sebanyak lima orang mahasiswa Fakultas Sastra pada hari Rabu, 31 Maret 2021, mengikuti tes seleksi penerimaan beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) yang diprakarsai dan didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Masih mengusung format Merdeka Belajar-Belajar Merdeka (MBBM), beasiswa ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa Indonesia program Strata 1 (S1) dari seluruh perguruan tinggi negeri dan swastra untuk memperoleh pengalaman kuliah di perguruan tinggi luar negeri selama 1 semester. Selain itu, mahasiwa juga dapat mempelajari budaya negara tuan rumah, melakukan tugas-tugas praktis untuk mengasah ketrampilan, dan membangun jejaring (networking) dengan teman sejawat, para akademisi, dan masyarakat international. Bagi perguruan tinggi Indonesia, program ini diharapkan mampu memperkuat dan mengembangkan kerjasama akademik dengan perguruan tinggi luar negeri.

Sebagai bentuk tanggung jawab pelaksanaan pendidikan tinggi, Fakultas Sastra menyambut baik strategi Dikti dalam rangka menyiapkan lulusan sarjana perguruan tinggi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Dengan bekal pengalaman kuliah merdeka belajar-belajar merdeka, mahasiswa Fakultas Sastra akan memiliki qualifikasi kompetensi yang unggul dan handal. Untuk itulah, beberapa persyaratan diberikan agar penerima program beasiswa ini adalah mereka yang memiliki kriteria yang dibutuhkan. Persyaratan tersebut di antaranya adalah memiliki ketrampilan Bahasa Inggris aktif yang dibuktikan dengan skor TOEFL ITP minimal 500. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki indeks prestasi kumulatif IPK) minimal 3,25. Dan tentunya juga, mereka adalah mahasiswa aktif yang terdaftar di pangkalan data Dikti. Keuntungan dari beasiswa ini adalah mahasiswa dapat mengambil minimal 20 SKS untuk ditempuh di perguruan tinggi luar dan mata kuliah tersebut dapat dikonversikan ke mata kuliah di program studi asal. Jadi, kuliah merdeka belajar ini justru memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi mitra. (nhy)