• (0281) 636751,630463,634424 ext.137
  • sastra@ump.ac.id
  • Jalan Raya Dukuhwaluh P.O. BOX 202
    Kembaran, Banyumas

3 Dosen Fakultas Sastra Siap Melayani Publik

09 December 2017 rp Berita 10251 Views
Rate this item
(0 votes)

Sabtu (9/12), tiga dosen Fakultas Sastra mengikuti ujian kompetensi penerjemah yang diadakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), yang disebut sebagai Tes Seleksi Nasional (TSN) 2017. Condro Nur Alim, Khristianto dan Bustanuddin As-Suaidy mencoba mendapatkan sertifikasi profesi sebagai praktisi penerjemah yang diakui oleh asosiasi nasional tersebut. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari aktivitas Program Unggulan Prodi, yang target utamanya adalah aktivasi kegiatan Biro Penerjemahan dan Klinik Bahasa di Fakultas Sastra, UMP. Harapannya dengan sertifikasi profesi tersebut, biro tersebut dapat melakukan promosi dan layanan dengan lebih percaya diri dan lebih dapat diandalkan oleh masyarakat, karena personal yang ada di dalamnya sudah memiliki kompetensi penerjemah yang telah dilegitimasi oleh lembaga yang paling berwenang.

TSN dilaksanakan di Jakarta Selatan di Kompleks Permata Hijau, Senayan. Pesertanya adalah para penerjemah di seluruh Indonesia—walaupun yang paling mendominasi adalah mereka yang berdomisili di Jakarta. Banyak juga peserta yang mengambil ujian TSN Inggris-Indonesia, yang ternyata tidak memiliki latar belakang pendidikan yang linear. Kami disambut dengan ramah oleh para pengurus HPI. Petugas pun menyapa akrab, meski mereka baru mengenal kami melalui komunikasi surat elektronik. Seusai menikmati kudapan pagi, para peserta pun mendapat pengarahan singkat tentang tata cara ujian, dan kemudian kami digiring untuk masuk ruang ujian pagi itu—ada 5 ruang yang dipakai karena peserta begitu banyak jumlahnya. Hal yang sangat dimaklumi karena TSN memang diadakan sekali setahun.

Kami masuk ruang ujian yang berisi boot-boot komputer. Jumlahnya 20 sesuai dengan jumlah peserta. Peserta tidak boleh membawa perangkat elektronik dan gawai apa pun. Kami hanya diperkenankan menggunakan alat bantu yang bersifat fisik, kamus dan referensi non-digital. Yang lebih unik adalah larangan keras menuliskan nama diri di mana pun, di soal, di lembar kerja MS Word, atau pun di nama file. Identitas kami hanya tampak dari no ujian. Ruangnya nyaman, terang benderang, dan cukup berjarak meminimalkan kemungkinan peserta untuk berbuat curang. Pengawas ujian pun aktif berkeliling dari boot ke boot.

Peserta harus mengerjakan 3 jenis soal dalam 180 menit atau 3 jam. Soal tentang kode etik sebagai penerjemah Indonesia, soal wajib dan soal pilihan—ada dua teks dan peserta boleh memilih salah satu. Soal kode etik berupa soal esai berupa situasi yang mungkin dihadapi penerjemah di lapangan. Situasi yang memaksa penerjemah harus memilih antara profesionalisme sebagai pekerja layanan dan pilihan etika karena isi teks yang diterjemahkan mengandung ancaman keselamatan bangsa. Soal kedua adalah teks yang harus dikerjakan oleh semua peserta dengan panjang sekitar 600-an kata. Teks tersebut dikutip dari laman web PBB—tentang perburuhan anak. Sementara soal pilihan berupa dua teks: 1) teks pertama adalah teks tentang perkembangan aplikasi berbasis android untuk mengatasi persoalan transportasi di Afrika—mengingatkan kita pada Go-Jek, 2) teks kedua adalah teks tentang seoarang wartawan juru foto dari Amerika yang mencoba memahami Amerika pasca 11/9 dengan persepktif baru. Saya sendiri memilih teks yang kedua, karena berita itu kental dengan nuansa sastra layaknya berita fitur.

Dari gelagatnya, hampir semua peserta berhasil menyelesiakan pada dua jam pertama. Saya pun demikian. Sebagai jeda pribadi, dan menjaga jarak dari teks sebelum melakukan review, saya pun memohon izin ke kamar kecil. Saya membaca ulang petunjuk soal (brief) sekali lagi sebelum melakukan pembacaan ulang pada teks terjemahan. Ternyata tidak lama, antara 10-15 menit, ulasan teks selesai dilakukan. Saya pun menekan tombol simpan berulang-ulang untuk memastikan file terjemahan aman tersimpan—baik naskah yang di PC atau pun yang disimpan di flashdrive. Petugas mengingatkan untuk memastikan file saya untuk dimasukan dalam satu folder dengan label yang sudah ditentukan. Begitu pun kita harus menamai tiap bagian dengan “TEKS WAJIB” dan “TEKS PILIHAN” sesuai dengan soal yang dikerjakan.

Setelah memastikan semuanya sudah oke, saya pun berkemas memasukan soal dan flashdrive ke dalam amplop ujian, menutup layar, dan berpamitan. Mengambil jaket dan tas yang dikumpulkan di depan ruang ujian, kemudian mengambil air hangat dari dispenser di luar ruang ujian. Sambil menunggu teman yang masih kutak-katik mengerjakan—saya yakin ia pun hampir selesai. Oh, saya harus ambil gambar untuk laporan dan berita. Setelah meminta izin, saya pun mengambil 3 foto situasi ujian TSN dengan fokus pada rekan tersebut. Beres.

Kami cukup lega, karena panitia ternyata juga menyediakan makan siang. Apalagi berupa nasi kotak, yang bisa kami bawa sambil mengejar kereta setengah dua. Tetapi kami luluh oleh keramahan para senior di HPI. Kami pun bersantap siang dengan ditemani obrolan santai dengan Bapak tambun yang praktisi fotografi sangat senior—foto-fotonya sudah biasa nampang melalui kantor berita Reuters dan AFC. “Orang daerah”, ia bersoloroh, “Daerah Istimewa Yogyakarta.” Aku ketawa ringan dengan kelucuan si tambun. Namanya Mas Mikhael Onny Setiawan, divisi Publikasi dan Dokumentasi HPI. Seperti tugas wajibnya, ia selalu menyapa orang yang baru masuk dan mempersilakan mereka untuk mengambil makanan dan minuman, “Silakan, ambil makanan di sana dan minumannya. Makan bisa di sini atau di lantai 2. Yang punya acara boleh dibawa pulang. Kami pun menyediakan plastik agar mudah dibawa”. Mantra itu terucap berulang-ulang menyelingi obrolan Mas Miko yang penuh canda dan sangat akrab.

Selesai makan siang, kami pun memesan mobil, meskipun kendaraan roda dua menjadi pilihan yang logis untuk mengejar waktu. Hujan di luar memaksa kami pada satu pilihan Go-Car. Lebih parah lagi, pengemudinya ibu-ibu yang normalnya sudah punya cucu. Dan si ibu ini begitu pendiam—mengingatkan saya pada pengemudi Go-Car di Bali yang sangat ramah meski terlihat begitu lelah. Kami pun melaju di jalanan ibu kota yang macet dalam suasana lengang dan penuh kegelisahan. Kereta setengah dua tidak terkejar. Tetapi banyak pilihan lain kalau sekedar untuk pulang. Yang penting kami sudah berhasil mengikuti ujian TSN 2017 yang hanya setahun sekali itu.

Kami berharap nama-nama kami terpampang sebagai penerjemah yang disahkan praktiknya oleh HPI. Dan kami siap melayani rekan, teman sejawat, kenalan, dan klien dari mana pun melalui lembaga kami, Biro Penerjemahan dan Klinik Bahasa, dengan sekretariat di Fakultas Sastra, UMP. Hubungi 0856-4353-4732 (WA) untuk mendapatkan respon cepat untuk layanan mumpuni di bidang penerjemahan dan komoditas bahasa (iklan, brosur, banner dan lain-lain). (Kris/rp)

Today's Poem

The Pavement 

Straight—stony—stormy—
Windy—wavy—weary—
Heavy—foamy
Flowery—nasty
Blissful—tearful
Delightful—hateful

Though, I must reach the final lap.

"Alf"





BERITA

PENGUMUMAN

ARTIKEL